Perjanjian Hudaibiyah

3 min read

haii teman-teman hari ini PakGuru.Co.Id akan menjelaskan tentang sejarah perjanjian hudaibiyah langsung saja kita bahas…..

Sejarah Perjanjian Hudaibiyah merupakan gambaran dari perjanjian yang mengutamakan perdamaian. Perjanjian Hudaibiyah ialah perjanjian yang dilaksanakan di Hudaibiyah Mekkah pada Maret, 628 M atau Dzulqa’dah 6 H antara kaum Qurais dengan kaum Muslimin Madinah. Hudaibiyah berada sekitar 22 Km ke arah barat dari Mekkah menuju ke Jeddah,

Sekarang terdapat Masjid Ar-Ridhwan. Hudaibiyah memiliki nama lain Asy-Syumaisi yang diambil dari nama Asy-Syumaisi yang menggali sumur di Hudaibiyah.

Sejarah Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah merupakan perjanjian yang terjadi diantara pihak Qurais Mekkah dan pihak Muslim Madinah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW.

Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian ini terjadi karena kaum Qurais Mekkah melarang kamum Muslim Madinah untuk masuk ke Mekkah dalam rangka melaksanakan ibadah haji umrah. Pada akhirnya Nabi Muhammad SAW mengajak mereka untuk melakukan negosiasi hingga mengadakan perjanjian untuk berdamai. Kaum Muslim di Madinah pun menyetejui langkah yang diambil oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu bahwa jalur diplomasi lebih baik daripada berperang. Kejadian ini pun diabadikan dalam Alqur’an QS Al Fath ayat 24.

Baca Juga : Perjanjian Kalijati

Gambaran secara rinci mengenai awal mula terdapatnya sejarah Perjanjian Hudaibiyah yakni Nabi Muhammada SAW mengizinkan kaum Muslim untuk mengadakan perjalanan ke Mekkah. Perjalanan tersebut bertujuan untuk melaksanakan ibadah haji. Hal ini disambut gembira oleh kaum Muslim Madinah.

Kira-kira sebanyak 1.000 orang mulai berangkat menuju Mekkah pada tahun 6 H atau 628 M. Demi menghilangkan prasangka kaum Quraisy Mekkah, maka Nabi pun melarang kaum Muslimin untuk membawa senjata kecuali binatang korban dan pedang untuk memotong binatang. Selain itu, kaum Muslimin hanya diperbolehkan mengenakan pakaian ihram.

Baca Juga :  Perjanjian Kalijati

Cerita terjadinya perjalanan Nabi Muhammad SAW dan para kaum Muslimin untuk menunaikan ibadah umrah akhirnya sampai ke telinga masyarakat Quraisy. Mereka curiga karena bisa saja sebagai taktik belaka untuk menembus kota Mekkah. Para pemuka Qurais tetap bertahan pada pendiriannya untuk melarang Nabi Muhammad SAW dan para kaum Muslimin masuk ke dalam Mekkah.

Para Kaum Qurais pun mulai menyiapkan pasukan sekitar 200 orang yang berada di bawah pimpinan Panglima Khalid Ibnu Walid untuk menghalangi Nabi Muhammmad SAW dan para pengikutnya masuk ke Madinah.

Baca Juga : Perjanjian Bangkok

Rombongan dari Madinah yang sedang menuju Mekkah akhirnya mengetahui hal tersebut setelah Nabi bertemu dengan seseorang dari suku Ka’ab. Seseorang tersebut mengatakan bahwa kaum Qurais telah menuju ke suatu daerah Kiral Gharim dan mereka melakukan sumpah untuk menghalangi Nabi Muhammada SAW dan para kaum Muslimin untuk memasuki kota Mekkah.

Isi dan Tujuan Perjanjian Hudaibiyah

Secara garis besar isi dari Perjanjian Hudaibiyah adalah:

“Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dan Suhail bin ‘Amru yang menjadi perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Dan siapapun yang ingin mengikuti Nabi Muhammad SAW, akan diperbolehkan secara bebas.

Siapapun yang ingin mengikuti Quraisy, maka akan diperbolehkan juga secara bebas. Seorang pemuda, yang masih berayah atau berpenjaga, jika mengikuti Muhammad (SAW) tanpa izin, maka akan dikembalikan lagi ke ayahnya dan penjaganya. Bila ada yang menjadi pengikut Quraisy, maka ia tidak akan pernah dikembalikan.

Tahun ini Muhammad (SAW) akan kembali ke Madinah. Tetapi pada tahun kemudian, mereka dapat masuk ke Mekkah, untuk melakukan tawaf disana selama tiga hari. Selama tiga hari itu, penduduk Quraisy akan mundur ke bukit-bukit. Mereka haruslah tidak bersenjata saat memasuki Mekkah”

Baca Juga :  Perjanjian Bangkok

Berdasarkan pernyataan diatas maka inti dari sebuah Perjanjian Hudaibiyah adalah:

  • Diberlakukannya gencatan senjata antara Mekkah dengan Madinah selama 10 tahun.
  • Warga Mekkah yang menyeberang ke Madinah tanpa seizin walinya harus dikembalikan ke Mekkah.
  • Warga Mekkah yang menyeberang ke Madina tanpa seizing walinya harus dikembalikan ke Mekkah.
  • Warga Madinan yang menyeberang ke Mekkah maka tidak boleh kembali ke Madinah.
  • Selain warga Mekkah dan Madinah, dibebaskan memilih untuk berpihak ke Mekkah atau Madianah.
  • Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya harus meninggalkan Mekkah, tetapi diperbolehkan lagi kembali ke Mekkah setahun setelah perjanjian itu. Mereka akan dipersilakan tinggal selama 3 hari dengan syarat hanya membawa pedang dalam sarungnya (maksudnya membawa pedang hanya untuk berjaga-jaga, bukan digunakan untuk menyerang). Selama 3 hari tersebut, para kaum Quraisy di Mekkah akan menyingkir keluar dari Mekkah.

Baca Juga : Perjanjian Linggarjati

Akibat Perjanjian Hudaibiyah

Hampir semua kaum Muslimin merasa sangat kecewa atas hasil dari Perjanjian Hudaibiyah. Mereka menilai bahwa perjanjian itu merupakan suatu kelemahan dan kekalahan. Bahkan ketika Nabi Muhammada SAW memberikan perintah untuk menyembelih hewan kurban, mereka tidak segera mematuhi perintahnya. Umar bin Khattab meronta tidak rela atas kesepakatan yang telah dicapai antara kedua belah pihak. Perjanjian tersebut seperti sebuah sikap perendahan dan penghinaan terhadap Islam, Nabi dan para pengikutnya.

Seiring nya waktu, hasil perjanjian ini pun sudah mulai terlihat. Sejarah Perjanjian Hudaibiyah menjadi kemenangan yang nyata para kaum Muslimin dan para perjuangan Islam. Terdapat ada beberapa hal yang begitu penting dari hasil Perjanjian Hudaibiyah yaitu sebagai berikut:

1.    Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani oleh Suhail bin Amr sebagai wakil kaum Quraisya Mekkah. Suku Quraisy adalah suku yang sangat dihormati di Arab, sehingga Madinah diakui mempunyai otoritas sendiri.

Baca Juga :  Sejarah Provinsi Lampung

2.    Perjanjian Hudaibiyah ini menyebabkan kaum Quraisy Mekkah memberi kekuasaan kepada pihak Madinah untuk menghukum pihak Quraisy yang menyalahi isi perjanjian tersebut.

3.    Perjanjian Hudaibiyah memperlihatkan keseimbangan karena adanya kebebasan masing-masing suku yang ingin menggabungkan diri atau bersekutu kepada salah satu pihak tanpa adanya tekanan dan paksaan.

Nabi Muhammad SAW sudah memahami betul karakter orang-orang Mekkah, sehinga beliau memastikan bahwa kaum Qurais Mekkah akan melanggar perjanjian tersebut sebelum selesai 10 tahun. Perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh para kaum Qurais, sehingga perjanjian ini di jadikan landasan hukum untuk menguasai kota Mekkah.

Baca Juga : Perjanjian Tordesillas

Pelanggaran Perjanjian Hudaibiyah mampu diatasi oleh kaum Muslimin. Kaum Muslimin bisa membalasnya dengan penaklukan Mekkah (Fathul Makkah) pada tahun 630 Masehi. Kaum Muslimin berpasukan sekitar sepuluh ribu tentara. Mereka hanya menemui sedikit rintangan di Mekkah. Akhirnya kaum Muslim pun mampu menaklukan Mekkah. Mereka meruntuhkan segala simbol keberhalaan di depan Ka’bah.

Inilah penjelasan mengenai sejarah Perjanjian Hudaibiyah. Semoga Anda dapat mengambil manfaat dari pembahasan ini.

Perjanjian Renville

Pak Guru
2 min read

Perjanjian Giyanti

Pak Guru
1 min read

Perjanjian Roem Royen

Pak Guru
1 min read
SELAMAT DATANG
Selamat Membaca Artikel yang Kami Bagikan, Semoga Dapat Membantu, Kritik dan Saran Silahkan Hubungi Kami [email protected]