Hutang Jangka Pendek

6 min read

Apa itu Hutang Jangka Pendek (Short Term Liabilities)? – Pada kesempatan kali ini pakguru.co.id akan membahas mengenai pengertian hutang jangka pendek, apa saja yang termasuk dalam hutang jangka pendek, pencatatan jurnalnya baik untuk hutang bonus, hutang hadiah, da hutang garansi, beserta contoh soalnya.

Jika sobat-sobat ingin memahami tentang hutang jangka pendek, hutang bonus, hutang hadiah, dan hutang hadiah.

Maka sobat semua dapat membaca penjelasan artikel yang ada dibawah ini, karna pada artikel dibahas mengenai hutang jangka pendek secara detail, dan mudah dipahami.

Pengertian

Hutang atau Liabilities, terbagi menjadi 2, yaitu hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang. Perpedaan antara keduanya terletak pada masa pelunasannya.

Hutang jangka jangka pendek, masa pelunasannya kurang dari satu periode, sedangkan hutang jangka panjang sebaliknya, yakni lebih dari satu periode.

Namun pada artikel ini hanya membahas mengenai hutang jangka pendek, sedangkan hutang jangka panjang dibahas di artikel hutang jangka panjang.

Hutang jangka pendek atau liabilities jangka pendek disebut juga utang lancar adalah hutang yang diharapkan akan dilunasi dalam jangka waktu pendek atau dalam satu periode akuntansi.

Dengan demikian pelunasannya akan dilakukan dengan menggunakan sumber-sumber aktiva lancar atau dengan menimbulkan utang jangka pendek yang lain.

Dalam dunia Bisnis, hutang merupakan sesuatu hal yang wajar, tapi bukan berarti perusahaan tersebut sedang mengalami pailit.

Namun bisa jadi dikarnakan perusahaan tersebut hanya untuk perputaran keuangan dalam proses bisnisnya. Hal ini berarti perusahaan tersebut dinyatakan dalam keadaan aman.

Penggolongan Hutang Jangka Pendek

Berdasarkan kepastian, baik mengenai kejadian maupun jumlahnya, hutang jangka pendek dapat digolongkan menjadi 4, yaitu :

Baca Juga :  Faktor Penentu Lokasi Industri

1. Hutang yang Sudah Pasti, antara lain :

  • Hutang dagang
  • Wesel bayar
  • Hutang Jaminan
  • Dll

2.  Utang yang Jumlahnya Tergantung pada Hasil Operasi, antara lain :

  • Hutang PPh perusahaan
  • Hutang bonus

3.  Hutang yang Masih Harus Ditaksir, antara lain :

  • Hutang hadiah
  • Hutang biaya garansi
  • Dll

4. Hutang yang Belum Pasti atau Hutang Bersyarat, adalah :

Hutang yang belum pasti akan menjadi kewajiban atau tidak. Utang bersyarat ini diakui dalam laporan keuangan apabila memenuhi persyaratan :

  • Kemungkinan besar akan terjadi
  • Jumlahnya dapat ditaksir dan relatif dapat dipertanggung-jawabkan.

Antara lain yang termasuk dalam utang bersyarat adalah :

  • Hutang akibat sengketa hukum
  • Garansi terhadap penurunan harga barang-barang yang dijual
  • Dll.

Hutang Bonus

Hutang bonus merupakan salah satu utang yang jumlahnya tergantung pada hasil operasi, yaitu bonus yang besarnya tergantung pada hasil penjualan atau laba perusahaan.

Macam-Macam Cara Menghitung Hutang Bonus

Bonus yang besarnya tergantung laba perusahaan dapat dihitung dengan empat (4) macam cara, yaitu :

  • Bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus dan pajak
  • Bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus, tetapi setelah dikurangi pajak
  • Bonus dihitung dari laba setelah dikurangi bonus, tetapi sebelum dikurangi pajak
  • Bonus dihitung dari laba setelah dikurangi bonus dan pajak

Contoh Soal dan Pembahasannya

Berdasarkan macam-macam cara menghitung hutang bonus diatas, maka untuk lebih jelasnya maka dapat kita perhatikan contoh dibawah ini:

PT Sinar Rembulan memberikan bonus kepada bagian penjualan sebesar 15% dari laba operasi, diketahui laba tahun ini sebesar Rp 40.000.000,00 dan tarif pajak penghasilan (PPh) sebesar 10%.

Beberapa alternatif perhitungan bonus sebagai berikut :

1.  Bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus dan pajak

     Bonus          =  15% x Rp 40.000.000,00   =    Rp 6.000.000,00

Baca Juga :  Eksarasi

     PPh-nya       =  10% x (Rp 40.000.000 – Rp 6.000.000)    =       Rp 3.400.000,00

2.  Bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus, tetapi setelah dikurangi pajak

     Cara menghitung dimulai dari :

     PPh        =       10% x (Laba – Bonus)

     P            =       10% x ( L – B )

                   =       0,1 L – 0,1 B

     B            =       15% x ( L – P )

                   =       15% x ( L – (0,1L – 0,1B)

                   =       15% x ( 0,9L + 0,1B)

                   =       0,135L + 0,015B

     0,985B   =       0,135 x Rp 40.000.000

     Bonus    =       Rp 5.482.233,50   

3.  Bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi pajak, tetapi setelah dikurangi bonus

     Cara menghitung dimulai dari :

     B            =       15% x (L – B)

                   =       15% x (40.000.000 – B)

                   =       6.000.000 – 0,15B

     Bonus    =       Rp 5.217.391,30

4.  Bonus dihitung dari laba setelah dikurangi bonus dan pajak

     Cara menghitung dimulai dari :

     PPh        =       10% x ( L – B )

     B            =       15% x ( L – B – P )

                   =       15% x ( L – B – ( 0,1L – 0,1B ))

                   =       15% x ( L – B – 0,1L + 0,1B )

                   =       15% x ( 0,9L – 0,9B )

                   =       0,135L – 0,135B

     1,135B   =       0,135 x 40.000.000

     Bonus    =       Rp 4.757.709,25

Sehubungan dengan perhitungan bonus diatas, maka jurnal yang diperlukan sebagai berikut :

a.    Saat bonus diumumkan :

Beban gaji & upah           Rp xxx
Hutang bonus                –             Rp xxx

b.    Saat bonus dibayar :

Hutang bonus                     Rp xxx
K a s                            –             Rp xxx

Hutang Hadiah

Hutang hadiah merupakan salah satu hutang yang jumlahnya masih harus ditaksir tetapi sudah pasti terjadi. Hadiah merupakan salah satu macam promosi dalam rangka meningkatkan volume penjualan

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh di bawah ini

Baca Juga :  Konjungsi Korelatif

PT Mutiara dalam rangka meningkatkan volume penjualan, maka kepada pembeli yang berhasil mengumpulkan kupon dapat ditukarkan dengan hadiah yang disediakan perusahaan. Satu (1) kupon untuk 1 unit hadiah dan 1 kupon diberikan untuk pembelian 5 unit barang yang dibeli.

Transaksi selama tahun 2020 sebagai berikut :

  • Penjualan sebanyak 1.000 unit
  • Pembelian barang hadiah 300 buah, @ Rp 5.000,00
  • Barang hadiah yang telah dibagikan kepada konsumen 140 buah
  • Pada akhir tahun (31 Desember 2011) ditaksir pembeli akan menggunakan haknya mencapai 75% dari keseluruhan pembeli.

Jurnal yang diperlukan sebagai berikut :

1Mencatat pembelian barang hadiah :  
 Persediaan barang hadihRp 1.500.000,00 
    K a s Rp 1.500.000,00
 (300 bh x Rp 5.000)  
    
2Mencatat pembagian barang hadiah  
 Beban promosiRp     700.000,00 
    Persediaan barang hadiah Rp     700.000,00
 (140 bh x Rp 5.000)  
    
3Mencatat utang hadiah, 31 Desember  
 Beban promosiRp       50.000,00 
    Utang hadiah Rp       50.000,00
 Penaksiran unit hadiah yang diberikan  :  75% x 1.000 unit =  750 unit
           Setara dengan 150 kupon atau 150 buah hadiah. Hadiah yang belum dibagikan  :  150 bh – 140 bh   =  10 buah  = Rp 50.000,00

Hutang Garansi

Utang garansi juga merupakan salah satu utang yang jumlahnya masih harus ditaksir tetapi sudah pasti terjadi. Garansi yang dimaksud bisa berupa perbaikan, penggantian suku cadang, dll selama masih masa garansi.

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh di bawah ini

PT Intan telah memperkirakan (berdasarkan pengalaman), rata-rata beban garansi 1 unit barang Rp 100.000,00. Transaksi berkaitan dengan penjualan dan utang biaya garansi selama tahun 2020 dan 2021 sebagai berikut:

1.    Penjualan tunai barang tahun 2020 sebesar Rp 50.000.000,00 untuk 10 unit barang

2.    Beban garansi sesungguhnya terjadi selama tahun 2021sebesar Rp 200.000,00

Jurnal yang diperlukan sebagai berikut :

1Mencatat penjualan barang (tahun 2020) :  
 K a sRp 50.000.000,00 
    Penjualan Rp 50.000.000,00
    
2Mencatat taksiran beban garansi 31 Des’ 21  
 Beban garansiRp     1. 000.000,00 
   Hutang garansi Rp     1. 000.000,00
    
3Mencatat beban garansi sesungguhnya terjadi selama tahun 2021  
 Hutang garansiRp         200.000,00 
    Persediaan suku cadang, Kas, dll. Rp         200.000,00

Dari beberapa penjelasan di atas, kami sudah membahas pengertian, penggolongan hutang jangka pendek, macam-macam cara menghitung hutang bonus, hutang hadiah, dan hutang garansi, beserta contoh soal yang dibahas secara jelas dan mudah dipahami.

Semoga dapat membantu sobat semua dalam menambah ilmu mengenai akuntansi menengah, khususnya hutang jangka pendek (Short Term Liabilities)

Demikianlah pembahasan yang dapat kami sajikan bagi sobat semua, semoga dapat bermanfaat. Aamiin… Terimakasih.

Kromosom Adalah

Pak Guru
2 min read

Budidaya Ikan Cupang

Pak Guru
3 min read

Cara Menanam Seledri

Pak Guru
2 min read