Hasil Kebudayaan Mesolitikum

3 min read

Hasil Kebudayaan Mesolitikum – Di artikel kali ini kita akan membahas tentang Hasil Kebudayaan Mesolitikum, dimana pada pembahasan sebelum nya kita telah membahas mengenai Fauna Oriental dan Budidaya Ikan Nila. Dalam pembahsan ini kita akan mengacu ke pengertian, peninggalan dan hasil kebudayaan.

Pengertian Zaman Mesolitikum

Hasil Kebudayaan Mesolitikum

Zaman batu menengah “Mesolitikum” diperkirakan sekitar 20.000 tahun. Pada masa kehidupan manusia ini, tidak jauh berbeda dari Zaman Batu purba, tempat berburu, mengumpulkan makanan, dan menangkap ikan.

Mesolithic atau Batu Tengah Age “Yunani; mesos” pusat “Lithos Batu” adalah periode dalam pengembangan teknologi manusia antara Paleolitik atau Palaeolithic dan Neolitik atau New Zaman Batu. Untuk alat yang digunakan di zaman Mesolitikum hampir sama dengan yang digunakan di Paleolitik, tetapi hanya sedikit dihaluskan.

Mesolithikum juga dikenal sebagai zaman batu atau masa batu madya, yang diperkirakan terjadi di Holocene (10.000 tahun yang lalu). Perkembangan budaya selama ini lebih cepat dari sebelumnya. Ini disebabkan antara lain.

Sifat alam yang lebih stabil yang memungkinkan manusia untuk hidup lebih tenang sehingga mereka dapat mengembangkan budaya mereka
Para penyembah manusia adalah tipe Homo sapiens, makhluk yang lebih pintar dari para pendahulunya.

Bahasa Mesolitik dapat diartikan sebagai batu tengah, merupakan tahap perkembangan masyarakat prasejarah antara Paleolitik dan Jungstein. Tidak jauh berbeda dengan situasi sebelumnya, berburu seumur hidup atau mengumpulkan makanan.

Tetapi pada saat itu orang memiliki tempat permanen untuk hidup dan bercocok tanam. Rumah-rumah yang mereka pilih umumnya terletak di pantai (kjokkenmoddinger) dan di gua-gua (abrissousroche), sehingga pada waktu itu banyak catatan budaya manusia ditemukan di tempat-tempat ini.

Baca Juga :  Perjanjian Bangkok

Pada saat itu, manusia dapat menghasilkan keramik tanah liat selain kapak tangan Sumatralithpebbleculture, alat tulang yang ditemukan di Sampung, dan sejumlah serpihan yang ditemukan di Toala (kultur serpihan). Kehidupan orang setengah duduk, banyak orang kuno yang tinggal di gua-gua di tebing pantai yang disebut abrissousroche.

Ciri – Ciri Zaman Batu (Zaman Mesolithikum)

  1. Nomaden dan masih mengumpulkan makanan
  2. Alat-alat yang dihasilkan hampir sama dengan pada periode Palaeolithic, yang masih merupakan alat-alat batu kasar.
  3. Penemuan gundukan shell di pantai disebut KjokenMondinger (sampah dapur)
  4. Di antara alat-alat budaya Mesolithic di Lawa Sampung Gua di Jawa Timur, yang disebut AbrisSousRoche meliputi: serpih, mata panah, kacang-kacangan, kapak persegi dan alat-alat tulang.
  5. alat Mesolithic meliputi: kapak genggam (Pebble), pendek (batu gerinda) Axes (hacheCourte) Pipis dan kapak batu dipotong sungai.
  6. Alat yang disebutkan di atas dapat ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Flores.
  • Ada tiga bagian penting dari budaya Mesolithikum :
    • Pebble culture (Perangkat genggam Axtkultur dari KjokenMondinger)
    • Bone Culture (Alat Bone Culture)
    • FlakesCulture (budaya batu tulis dari Abris Sauce Roche)

Baca Juga : Jaring-Jaring Makanan

Manuisa yang mendukung budaya Mesolitikum adalah melanosoid Papua. Di Sampung, di mana alat tulang ditemukan, arkeolog Van Stein Callenfels juga menemukan fosil ras Austromelanosoid, yang diyakini merupakan nenek moyang suku Papua. Produk budaya lain yang sangat penting di era ini adalah lukisan gua, yang diteliti dengan cermat oleh dua bersaudara Roder dan Galis, khususnya lukisan gua di wilayah Papua. Dari penelitian ini jelas bahwa lukisan itu dibuat antara Ian dan tujuannya.

Sebagai bagian dari ritual keagamaan, seperti salam untuk menghormati leluhur, upacara inisiasi, upacara kesuburan, upacara hujan. Untuk keperluan ilmu dukun, seperti terlihat pada gambar binatang yang dianggap kekuatan magis.

Baca Juga :  Fungsi Mitokondria

Lukisan-lukisan gua ini tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia, terutama di Indonesia timur. Fitur lain yang menarik dari penemuan ini adalah tema dan bentuk lukisan, yang mirip satu sama lain, meskipun lukisan gua diperkirakan telah dibuat sekitar 40.000 tahun sebelum waktu ketika mereka terbiasa dengan teknik melukis. Warna merah berasal dari hematit (oksida besi atau oker merah), putih dari kaolin (kapur), sedangkan warna hitam terbuat dari arang atau mangan dioksida.

Lukisan telapak tangan lain yang juga ada di Gua Leang-Leang di Sulawesi Selatan. Sidik jari merah dianggap sebagai simbol kekuatan atau simbol perlindungan terhadap roh jahat, dan sidik jari yang jari-jarinya tidak lengkap dianggap sebagai ekspresi kesedihan atau kesedihan.

Hasil Kebudayaan Mesolitikum

1. Kebudayaan Pebble (PebbleCulture)

A. Kjokkenmoddinger (limbah dapur)

Kjokkenmoddinger adalah istilah yang berasal dari bahasa Denmark. Kjokken berarti dapur dan modding berarti limbah. Kjokkenmoddinger Jadi sebenarnya berarti sampah dapur. Pada kenyataannya Kjokkenmoddinger adalah sekelompok kerang dan siput, yang telah tercapai dan membatu atau memfosil ketinggian ± 7 meter.

Kjokkenmoddinger terletak di pantai timur Sumatra antara Langsa dan Medan. Dari jejak-jejak penemuan ini tampak bahwa orang-orang tua, yang hidup pada masa ini, telah menetap. 1925 P. V. Van Stein Callenfels memeriksa gundukan shell dan menemukan bahwa banyak kapak genggam berbeda dengan shredder (kapak tangan Paleolitik).

B. Pebble (Sumatra hand ax = Sumateralith)

Pada tahun 1925, Dr. P. V. Van Stein Callenfels mencari gundukan shell, dan hasilnya menunjukkan sebuah kapak genggam. Kapak tangan yang ditemukan di gundukan shell dinamai kerikil Sumatralith menurut lokasi di pulau Sumatra. Bahan untuk kapak berasal dari batu yang pecah.

C. Hachecourt (kapak pendek)

Selain kerikil yang ditemukan di gundukan kerang, jenis kapak ditemukan, yang pendek (setengah lingkaran) dan disebut Hachecourt / kapak pendek.

Baca Juga :  Daur Air

D. Batu asahan

Selain kapak yang ditemukan di cangkang gunung ditemukan juga lubang (batu asahan dan fondasinya). Batu kencing tidak hanya digunakan untuk menggiling makanan tetapi juga untuk menghaluskan cat merah. Bahan cat merah berasal dari tanah merah. Warna merah yang akan digunakan untuk tujuan agama dan Sihir.

E. Budaya Sampung Bone (Budaya Sampung Bone)

Berdasarkan alat-alat kehidupan yang ditemukan di Gua Lawa di Sampung (daerah Ponorogo – Madiun Jawa Timur) 1928-1931, alat-alat batu seperti panah dan serpih, kapak yang diasah, alat tulang, tanduk rusa dan alat-alat perunggu dan besi ditemukan . Menurut para arkeolog, sebagian besar alat yang ditemukan adalah tulang, sehingga disebut kultur tulang Sampung.

2. Flake culture (budaya serpihan)

A. Abris Souce Roche

AbrisSousRoche adalah gua yang berfungsi sebagai tempat tinggal orang-orang Mesolitik kuno selama periode Mesolitik dan berfungsi sebagai perlindungan terhadap cuaca dan hewan liar. Investigasi pertama pada AbrisSousRoche dilakukan oleh Dr. med. Van Stein Callenfels 1928-1931 di Gua Lawa dekat Sampung Ponorogo, Jawa Timur.

Kepercayaan Atau Keyakinan

Masyarakat Mesolithic di Indonesia sudah mulai mengenali keyakinan dan penguburan mayat. Gambaran manusia di pulau Seram dan Papua adalah gambar leluhur dan dianggap sebagai pertahanan terhadap roh jahat dengan kekuatan magis. Demikian pula, gambar kadal di wilayah tersebut dianggap sebagai perwujudan leluhur atau kepala suku sebagai simbol kekuatan magis. Penyembahan binatang yang diyakini memiliki kekuatan magis disebut totemisme.

Indikasi penguburan dari zaman Mesolitik ditemukan di Gua Lawa (Sampung) dan di kjokkenmodinger. Mayat-mayat itu dilengkapi dengan peralatan sehari-hari seperti kapak dan perhiasan yang indah. Ada juga mayat yang ditaburi cat merah pada upacara pemakaman untuk memberikan kehidupan baru setelah kematian.

Demikian artikel yang dapat kami sampaikan yaitu tentang Hasil Kebudayaan Mesolitikum. Semoga bermanfaat untuk Anda.

Anatomi Telinga

Ika Evitasari
3 min read

Fungsi Oviduk

Pak Guru
2 min read

Fungsi Mitokondria

Pak Guru
2 min read