Budidaya Belut

3 min read

Budidaya Belut – Belut adalah hewan air yang terbagi dalam kelompok ikan. Tidak seperti kebanyakan spesies ikan lainnya, belut dapat hidup di lumpur dengan sedikit air. Hewan ini memiliki dua sistem pernapasan yang memungkinkannya bertahan dalam kondisi ini.

Jenis belut yang paling terkenal di Indonesia adalah belut padi Monopeterus alebus. Di beberapa tempat, belut rawa Siynbrancus juga dikenal sebagai Bengalensus. Perbedaan yang paling mencolok antara Reisaal dan belut rawa adalah postur tubuhnya. Sawahnya pendek dan gemuk, sementara belut rawa lebih panjang dan lebih ramping.

Ada dua segmen usaha budidaya belut, yaitu pembibitan dan pembesaran. Pembibitan bertujuan untuk menghasilkan anakan. Sedangkan pembesaran bertujuan untuk menghasilkan belut dengan ukuran yang siap untuk dikonsumsi.

Proses Budidaya Belut

Budidaya Belut

Memilih Bibit

Benih untuk budidaya belut dapat diperoleh dari hasil tangkapan atau budidaya. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan.

Bibit tahanan memiliki beberapa kelemahan, seperti ukuran tidak rata dan kemungkinan trauma karena metode penangkapan. Hasil tangkapan memiliki keunggulan karena rasanya lebih enak dan harga jualnya lebih baik.

Kurangnya benih dari budidaya biasanya lebih rendah dari tangkapan belut. Meskipun manfaatnya adalah ukuran benih yang lebih merata, mereka dapat tersedia dalam jumlah besar dan kontinuitas terjamin. Selain itu, kultivar memiliki kapasitas pertumbuhan yang relatif sama, karena biasanya berasal dari satu induk.

Baca Juga : Pengertian Hewan dan Berbagai Jenisnya

Belut yang dibudidayakan diperoleh dari pemijahan alami belut jantan dengan betina. Sejauh ini belum ada pemijahan buatan di Indonesia (seperti suntikan hormon) untuk belut. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang taman kanak-kanak, silakan baca tips sukses untuk taman kanak-kanak belut.

Baca Juga :  Cara Menanam Kentang

Benih yang baik untuk budidaya belut harus memenuhi kriteria berikut :

  • Bentuk nya sama. Ukuran benih yang seragam dikatakan untuk memudahkan pemeliharaan dan mengurangi risiko kanibalisme atau pemangsaan.
  • Gerakannya aktif dan bergerak, tidak lambat.
  • Tidak ada cacat atau cedera fisik.
  • Bebas dari penyakit.

Siapkan Kolam Budidaya

Belut Budidaya belut bisa dilakukan di kolam permanen atau semi permanen. Kolam permanen biasanya digunakan, termasuk kolam, ladang dan kolam dinding. Kolam semi permanen termasuk kolam miring, drum, tong, wadah plastik dan jaring.

Bentuk dan luas kolam dinding boleh dibuat dari bermacam jenis, disesuaikan dengan keadaan ruang dan keperluan. Kolam ketinggian kolam dari 1,5 meter. Lubang longkang dibuat dengan paip yang agak besar untuk memudahkan penggantian media tanam.

Untuk dinding kolam baru, anda mesti terlebih dahulu mengeringkannya selama beberapa minggu. Kemudian rendam dengan air dan tambah daun pisang, serat kelapa, atau daun pisang. Basuh sekurang-kurangnya tiga kali atau sehingga bau simen hilang.

Baca Juga : Budidaya Ikan Gurame

Langkah untuk Menumbuhkan Media Pengembangbiakan Belut :

  • Kolam renang bersih dan kering. Kemudian tempatkan jerami padi cincang pada kira-kira. Dasar kolam setebal 25 cm.
  • Letakkan potongan pisang setebal 5 cm di atas sedotan.
  • Kotoran dengan lumpur sawah atau rawa setebal 10 cm. Biarkan media tumbuh selama seminggu sampai benar-benar difermentasi.
  • Jalankan air bersih dalam media nutrisi yang difermentasi selama 3-4 hari untuk memurnikan racun. Buat sejumlah besar air, jangan terlalu berat untuk menghindari erosi.
  • Langkah terakhir adalah membanjiri substrat kultur dengan air bersih. Kedalaman air 6 cm dari permukaan. Di kolam, tanaman air seperti eceng gondok dapat diberikan. Jangan berlebihan.
  • Dari metode di atas, lapisan media tumbuh / lumpur sekitar 50 cm diperoleh. Setelah semuanya siap, bibit belut bisa disimpan.
Baca Juga :  Cara Menanam Semangka

Menyebarkan Bibit dan Mengatur Air

Belut adalah hewan yang bisa dibudidayakan dengan kepadatan tinggi. Kepadatan stocking untuk bibit belut berukuran 10-12 cm berkisar antara 50-100 ekor / m2.

Sebarkan benih di pagi atau sore hari agar belut tidak stres. Bibit yang berasal dari tangkapan alami pertama-tama harus dikarantina selama 1-2 hari. Proses karantina dilakukan dengan menempatkan benih dalam air bersih yang mengalir. Berikan makanan dalam bentuk pengocok telur selama proses karantina.

Atur sirkulasi air dengan hati-hati. Jangan terlalu berat (air seperti genangan sawah) yang penting untuk sirkulasi air. Juga mengatur kedalaman air, ini mempengaruhi postur belut. Air yang terlalu dalam akan membuat belut banyak bergerak untuk mengambil oksigen dari permukaan, sehingga belut akan lebih tipis.

Makanan (Budidaya Belut)

Belut adalah binatang yang rakus. Keterlambatan dalam menyediakan makanan bisa berakibat fatal. Terutama pada belut yang baru ditebar.

Jumlah pakan harus disesuaikan dengan berat populasi belut. Secara umum, belut membutuhkan 5-20% dari berat badannya setiap hari.

Berikut adalah persyaratan pakan harian untuk berat populasi belut 10 kg:

  • Usia 0-1 bulan: 0,5 kg
  • Usia 1-2 bulan: 1 kg
  • Usia 2-3 bulan: 1,5 kg
  • Usia 3-4 bulan: 2 kg

Pakan belut bisa berupa pakan hidup atau mati. Makanan hidup untuk belut kecil (larva) termasuk zooplankton, cacing, kutu air (daphnia / moina), cacing, berudu, larva ikan, dan larva serangga. Sementara belut dewasa dapat diberi makan dengan ikan, katak, serangga, kepiting yuyu, siput, belatung dan siput. Frekuensi pemberian makan langsung dapat dilakukan 3 hari sekali.

Untuk pakan mati bisa diberikan bangkai ayam, cincang keong, ikan rucah, cincang yuyu, atau pelet. Pakan mati untuk budidaya belut harus diberikan setelah direbus terlebih dahulu. Frekuensi makan bisa mati 1-2 kali setiap hari.

Baca Juga :  Cara Menanam Seledri

Karena belut bersifat nokturnal, makan akan lebih efektif pada sore atau malam hari. Kecuali untuk budidaya terlindung, memberi makan bisa dilakukan sepanjang hari.

Baca Juga : Budidaya Ikan Lele

Masa Memanen (Budidaya Belut)

Tidak ada standar seberapa besar belut dikatakan siap untuk dikonsumsi. Namun secara umum pasar domestik biasanya membutuhkan belut yang lebih kecil, sedangkan pasar ekspor membutuhkan ukuran yang lebih besar. Untuk pasar domestik, lama pemeliharaan untuk pembesaran berkisar 3-4 bulan, sedangkan untuk pasar ekspor adalah 3-6 bulan, bahkan lebih, mulai dari saat benih ditanam.

Ada dua cara untuk memanen budidaya sidat, panen parsial dan panen total. Sebagian panen dilakukan dengan memanen semua populasi belut, kemudian belut kecil dipisahkan untuk dipelihara kembali.

Sementara total panen biasanya dilakukan dalam budidaya belut intensif, di mana metode pemberian makan dan budidaya dilakukan dengan hati-hati. Sehingga belut yang dihasilkan memiliki ukuran yang lebih seragam.

Budidaya Kopi Stek

Pak Guru
2 min read

Budidaya Jangkrik

Pak Guru
4 min read

Budidaya Timun

Pak Guru
5 min read